Bias Ediyaksa, itulah nama saya.
Saya lahir dirumah sakit, di daerah jakarta sebelah timur. Saya terlahir dengan
keluarga yang biasa-biasa saja. Orang tua saya cukup baik merawat saya. Namun
terkadang saya kurang menghargai mereka, sehingga mereka terkadang keras
terhadap saya. Bagi saya mereka melakukan hal itu karena untuk kebaikan saya.
Jadi saya akan mengambil sisi positif nya saja dari apa yang mereka lakukan
terhadap saya. Saya tinggal di rumah, daerah harapan indah. Rumah itu telah
menjadi tempat saya, dari saya lahir hingga besar saat ini. Bagi saya itu lah
surga saya, tempat yang aman dan nyaman yang dibangun dengan penuh keringat
papah saya. Dan dibantu dengan dorongan batin serta doa dari ibu saya.
Hingga umur saya semakin
bertambah, saya pun di ajarkan untuk belajar. Karena saya masih terlalu kecil,
maka sayang memulai pelajaran di sekolah Taman Kanak-kanan (TK). Pada masa itu
saya berumur kurang lebih 5 tahun. Karena itu TK saya belum mendapatkan
pelajaran yang penting. Saya hanya bermain dengan teman-teman baru yang
seumuran, dan melakukan pembacaan huruf dan angka yang menurut saya cukup lah
untuk melatih basic.
Akhirnya pun setahun berlalu,
kini saya memasukin pembelajaran yang sudah wajib. Yaitu sekolah dasar (SD).
Disini waktu mulai bermain sudah tidak sebanyak di waktu saya masih TK. Saya
mulai menghitung, membaca, menghafal, dan yang lain-lainya yang jelas mulai
mengasah pikiran saya. Terlalu banyak pengalaman saya waktu SD ini sehingga
banyak yang terlupakan jika diharus dijelaskan saat ini
Pada SD ini, saya mempunya banyak
teman mulai dari teman yang pertama masuk, sampai teman-teman pindahan SD lain.
Namun saya tidak terlalu bergaul ke semua teman-teman saya. Hanya beberapa
teman saya yang mungkin cukup akrab dengan saya. Dari mereka lah saya mulai
merubah sikap saya. Dari dulu yang suka keluar dan bermain-mainan lari-larian,
kartu, monopoly, atau main-mainan khas indonesia lainnya. Semenjak dengan
mereka saya mulai mengenal game. Dan karena asiknya bermain game, saya jadi
kurang bersosialisasi. Tapi bagaimana pun saya tetap bersosialisasi.
Saya pun tumbuh semakin besar,
kini saya meranjak SMP. Dan saya pun belajar di sebuah SMP Negri. Pada saat SMP
ini banyak sekali hasutan-hasutan buruk. Di tambah lagi guru-guru yang tidak
pernah perduli keadaan muridnya. Mereka bebas bergaul sampai terlewat bebas.
Sebenernya jika saya tidak dapat menahan godaan mungkin saya juga terjerumus
dari suram nya saat SMP.
Untung nya pada saat SMP saya
mendapat teman-teman yang baik, yang tak pernah menghasut saya dalam perbuatan
buruk itu. Karena saya yakin, saat-saat sekarang juga menentukan saat-saat di
masa yang akan datang nanti.
Sampai akhirnya saya SMA, dan
saya mendapatkan disebuah SMA swasta. Ini sungguh benar-benar beda dibanding
waktu saya SMP Negri. Guru-gurunya begitu solid dengan murid, mereka akrab dan
berbagi canda tawa. Meski belajar emang bikin pusing, tapi saat itu juga bisa
jadi FUN. Pergaulannya pun tidak separah SMP, disini mereka lebih jaga sikap
dan tahu diri. Walau tidak kenal, selalu ada senyum sapa. Sama beda kelas, ade
kelas maupun kakak kelas pun begitu akrab. Saling membantu disaat susah maupun
senang. Berbagi tawa canda dan bahagia bersama. Dari SMA ini lah saya mengerti
apa yang di namakan KEBERSAMAAN.
Namun itu tidak berlangsung lama.
Berselang tiga tahun kami semua pun berpisah untuk pembelajaran lebih lanjut. Meski
ada beberapa yang satu kampus dengan saya. Tapi tetap kami tidak sekelas. Disinilah
enaknya swasta, meski sudah berpisah tapi sekolah ku masih sering mengadakan
reunian-reunian.
Saat ini aku telah berkuliah dan
mendapatkan satu jurusan di universitas tersebut. Aku sebagai IT, dan aku
sangat fun menjalaninya. Meski pulang malem tugas bertumpuk, ini tidak masalah.
Semua terasa ringan. Karena aku juga memiliki teman-teman yang solid. Aku beruntung
mendapatkan dikelas ini, 1ia25. Mereka semua baik-baik dan aneh-aneh. Saling
menolong dan bersama.