Rabu, 02 Januari 2013

Tugas Softskill "Masalah Banjir"


BANJIR



FILOSOFI TENTANG BANJIR!!

Banjir  merupakan bencana alam yang dimana tergenangnya air yang terjadi akibat perlupan air di sungai. Banyak hal yang dapat menyebabkan banjir, diantaranya curah hujan yang sangat tinggi, sampah-sampah yang menyumbat saluran air, datangnya air kiriman dari dataran yang lebih tinggi.
                Tapi dari saat ini yang kita lihat dilingkungan kita, banjir kerap datang meskipun hujan hanya sesaat. Apa penyebabnya? Hal tersebut disebabkan akibat tersumbatnya air pada saluran sungai. Air tersebut tersumbat oleh sampah-sampah yang dibuang oleh warga-warga sekitar ataupun warga lain yang sengaja membuang sampah itu ke sungai. Padahal sudah berkali-kali diingatkan dan disarankan untuk hidup lebih mencintai alam, dengan membuang sampah pada tempatnya seperti yang sudah diajarkan sejak kecil. Namun manusia hanya mau praktisnya, membuang sampah seenaknya tanpa memikirkan akibatnya. Dan setelah terjadi banjir yang disalahkan malah pemerintah yang tidak bisa menangani banjir. Padahal mau bagaimanapun banjir itu datang dari akibat sendiri.

                Selain menyalahkan pemerintah, terkadang juga menyalahkan alam yang sudah memberikan hujan sehingga daerah tersebut menjadi tergenang air. Selain dari masalah sampah, ada lagi masalah lain yang menyebabkan banjir tapi datangnya dari diri sendiri. Yang dimaksud adalah penggundulan hutan.
                Penggundulan hutan juga berdampak besar bagi kebanjiran, apa lagi pada ibukota atau bisa dibilang Kota Jakarta ini, yang dimana Kota Jakarta ini sudah penuh dengan bangunan dan tidak ada lagi pohon-pohon atau tanaman-tanaman yang dapat menyerap air dengan cepat. Karena diyakinkan tanaman dapat melakukan penyerapan sehingga dapat mengurangi adanya genangan air. Padahal dengan banyak pepohonan, itu akan dapat menyejukkan suasana Jakarta yang begitu gersang karena banyaknya asap kendaraan dan hawa panas dari mesin-mesin kendaraan.
                Meskipun sudah dibuat berbagai cara antisipasi mencegah banjir, tetapi itu tidak sepenuhnya dapat mencegah hingga keplosok-plosok jakarta. Melainkan hanya bagian-bagian yang mendapat fasilitas yang terhindar dari genangan seperti daerah yang dekat BKT(Banjir Kanal Timur). Karena BKT tersebut masih terbilang baru dan begitu besar, tidak memungkinkan sampah dapat menyumbat aliran tersebut. Dan karena adanya perawatan pada daerah itu, maka apabila ada sampah pun langsung segera dibersihkan sehingga air tetap lancar.
                Itu contoh mencegah banjir yang cukup baik, meski hanya melindungi dari sekitar wilayah yang mendapatkan fasilitas itu, tetapi tidak melindungi secara menyeluruh hingga keplosok.

                APAKAH INI TERMASUK MASALAH SOSIAL?

                Bagi saya ini merupakan masalah sosial yang dimana banyak sekali orang-orang yang dirugikan. Enaknya, kita tidak perlu susah-susah mencari tempat sampah atau melihat sampah-sampah yang berserakan pada tempat sampah kita. Melainkan hanya perlu membuangnya ke sungai dan hanyut terbawa arus sungai, jadi kita tidak akan melihat sampah itu lagi. Namun buruknya adalah itu, sampah itu akan menyumbat aliran sungai dan aliran sungai tersebut akan menggenang hingga kepermukaan.

                BAGAIMANA CARA MENGATASINYA?

                Cara mengatasinya adalah dari diri kita sendiri. Semua harus dilakukan dari kita sendiri dahulu. Kita harus punya kesadaran untuk tidak merusak alam ataupun mencemarinya dengan apapun. Melainkan kita harus memanfaatkan sebaik mungkin tanpa merusaknya dan membuat dampak buruk pada nantinya. Kita juga harus membersihkan sampah-sampah yang menyumbat aliran sungai dari hasil perbuatan kita, dan kita harus tetap merawatnya agar tetap bersih. Dan selanjutnya adalah menambahkan banyaknya pepohonan yang rindang agar semakin banyak menyerap air sekaligus polusi. Sehingga kota Jakarta menjadi asri dan sejuk meskipun masalah lain yaitu kemacetan itu masih ada.

                                                                        Sumber referensi : saya sendiri (Bias Ediyaksa)