BANJIR
FILOSOFI TENTANG BANJIR!!
Banjir merupakan bencana alam yang dimana
tergenangnya air yang terjadi akibat perlupan air di sungai. Banyak hal yang
dapat menyebabkan banjir, diantaranya curah hujan yang sangat tinggi,
sampah-sampah yang menyumbat saluran air, datangnya air kiriman dari dataran
yang lebih tinggi.
Tapi
dari saat ini yang kita lihat dilingkungan kita, banjir kerap datang meskipun
hujan hanya sesaat. Apa penyebabnya? Hal tersebut disebabkan akibat
tersumbatnya air pada saluran sungai. Air tersebut tersumbat oleh sampah-sampah
yang dibuang oleh warga-warga sekitar ataupun warga lain yang sengaja membuang
sampah itu ke sungai. Padahal sudah berkali-kali diingatkan dan disarankan
untuk hidup lebih mencintai alam, dengan membuang sampah pada tempatnya seperti
yang sudah diajarkan sejak kecil. Namun manusia hanya mau praktisnya, membuang
sampah seenaknya tanpa memikirkan akibatnya. Dan setelah terjadi banjir yang
disalahkan malah pemerintah yang tidak bisa menangani banjir. Padahal mau
bagaimanapun banjir itu datang dari akibat sendiri.
Selain menyalahkan pemerintah, terkadang juga menyalahkan alam yang sudah memberikan hujan sehingga daerah tersebut menjadi tergenang air. Selain dari masalah sampah, ada lagi masalah lain yang menyebabkan banjir tapi datangnya dari diri sendiri. Yang dimaksud adalah penggundulan hutan.
Selain menyalahkan pemerintah, terkadang juga menyalahkan alam yang sudah memberikan hujan sehingga daerah tersebut menjadi tergenang air. Selain dari masalah sampah, ada lagi masalah lain yang menyebabkan banjir tapi datangnya dari diri sendiri. Yang dimaksud adalah penggundulan hutan.
Penggundulan
hutan juga berdampak besar bagi kebanjiran, apa lagi pada ibukota atau bisa
dibilang Kota Jakarta ini, yang dimana Kota Jakarta ini sudah penuh dengan
bangunan dan tidak ada lagi pohon-pohon atau tanaman-tanaman yang dapat
menyerap air dengan cepat. Karena diyakinkan tanaman dapat melakukan penyerapan
sehingga dapat mengurangi adanya genangan air. Padahal dengan banyak pepohonan,
itu akan dapat menyejukkan suasana Jakarta yang begitu gersang karena banyaknya
asap kendaraan dan hawa panas dari mesin-mesin kendaraan.
Meskipun
sudah dibuat berbagai cara antisipasi mencegah banjir, tetapi itu tidak
sepenuhnya dapat mencegah hingga keplosok-plosok jakarta. Melainkan hanya
bagian-bagian yang mendapat fasilitas yang terhindar dari genangan seperti
daerah yang dekat BKT(Banjir Kanal Timur). Karena BKT tersebut masih terbilang
baru dan begitu besar, tidak memungkinkan sampah dapat menyumbat aliran
tersebut. Dan karena adanya perawatan pada daerah itu, maka apabila ada sampah
pun langsung segera dibersihkan sehingga air tetap lancar.
Itu
contoh mencegah banjir yang cukup baik, meski hanya melindungi dari sekitar
wilayah yang mendapatkan fasilitas itu, tetapi tidak melindungi secara
menyeluruh hingga keplosok.
APAKAH INI TERMASUK MASALAH SOSIAL?
Bagi
saya ini merupakan masalah sosial yang dimana banyak sekali orang-orang yang
dirugikan. Enaknya, kita tidak perlu susah-susah mencari tempat sampah atau
melihat sampah-sampah yang berserakan pada tempat sampah kita. Melainkan hanya
perlu membuangnya ke sungai dan hanyut terbawa arus sungai, jadi kita tidak
akan melihat sampah itu lagi. Namun buruknya adalah itu, sampah itu akan
menyumbat aliran sungai dan aliran sungai tersebut akan menggenang hingga
kepermukaan.
BAGAIMANA CARA MENGATASINYA?
Cara mengatasinya adalah dari diri kita sendiri. Semua harus dilakukan dari kita sendiri dahulu. Kita harus punya kesadaran untuk tidak merusak alam ataupun mencemarinya dengan apapun. Melainkan kita harus memanfaatkan sebaik mungkin tanpa merusaknya dan membuat dampak buruk pada nantinya. Kita juga harus membersihkan sampah-sampah yang menyumbat aliran sungai dari hasil perbuatan kita, dan kita harus tetap merawatnya agar tetap bersih. Dan selanjutnya adalah menambahkan banyaknya pepohonan yang rindang agar semakin banyak menyerap air sekaligus polusi. Sehingga kota Jakarta menjadi asri dan sejuk meskipun masalah lain yaitu kemacetan itu masih ada.
Sumber referensi : saya sendiri (Bias Ediyaksa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar